Memahami Rasisme Orang Pintar: Rasisme Ternyata Bisa Berasal dari Mereka yang Menguasai Sains

Agama  
Orang kulit hitam Afrika yang diculik dari Afrika tengah disiksa orang kuliti putih yang mengaku beradab dan berilmu pengetahuan maju. Ini bukti kisah tragis rasisme dalam peradaban manusia.
Orang kulit hitam Afrika yang diculik dari Afrika tengah disiksa orang kuliti putih yang mengaku beradab dan berilmu pengetahuan maju. Ini bukti kisah tragis rasisme dalam peradaban manusia.

Bila ada profesor bahkan rektor sebuah universitas teknik membenarkan atau tak hirau akan rasisme, sepintas lalu memang tak masuk aka. Namun, faktanya, pada sebuah artikel https://www.giarts.org/sites/default/files/conference_websites/2017/documents/construction-of-race-and-racism.pdf, di sana ada tulisan bertajuk: Sains sebagai pembenaran untuk rasisme.

Jadi dalam sejarah dunia, ilmu pengetahuan memang menjadi salah satu muara munculnya rasisme. Rasisme yang lain muncul dari agama, politik, warna kulit, suku, asal-usul dan lainnya. Bahkan bentuk mata pun bisa jadi asal usul rasisme.

Dalam tulisan itu tertulis begini:

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Selama abad ke-19, Darwin menerbitkan On the Origin of the Species (1859), bukunya yang mendokumentasikan proses evolusi. Darwin percaya pada tatanan alam untuk perkembangan spesies; yang lemah mati dan yang kuat bertahan. Meskipun teori evolusi tidak rasis, para filsuf dan ilmuwan sosial, menggunakan teori Darwin dengan cara-cara ilmiah semu untuk membenarkan genosida dan rasisme. Pemikiran ini kemudian disebut “Darwinisme Sosial” dan memiliki implikasi brutal.

Ini karena tekag menganggap perampasan tanah secara tidak sah, yang merusak kehidupan, budaya, dan sarana bertahan hidup mereka, sambil menyebarkan penyakit dan kematian. Genosida ini "dibenarkan" oleh hukum alam, yaitu survival of the fittest. Penjajahan Eropa dan Amerika Eropa atas tanah asli di seluruh dunia pada periode ini menciptakan konsekuensi pemusnahan yang sangat nyata. Ini memberikan motivasi untuk dugaan “penelitian ilmiah”, yang pada gilirannya memberikan alibi kepada para pembasmi dengan menyatakan pemusnahan secara alami tak terhindarkan.5

Upaya Pseudo-Ilmiah untuk mengkategorikan ras:

Sepanjang abad 16, 17 dan 18, orang menggunakan istilah yang berbeda untuk menjelaskan perbedaan ras. Klasifikasi yang ditunjukkan di bawah ini:

Pada tahun 1838 JC Prichard, seorang antropolog terkenal, kala memberikan kuliah tentang "Kepunahan Ras Manusia" Dia berkata jelas bahwa "ras buas" tidak mungkin diselamatkan. Itu adalah hukum alam.

Pada tahun 1864, W. Winwood Reade, seorang anggota terhormat dari masyarakat geografis dan antropologis London menerbitkan bukunya yang berjudul Savage Africa. Dia mengakhiri bukunya dengan prediksi tentang masa depan ras kulit hitam.

“Inggris dan Prancis akan menguasai Afrika. Orang Afrika akan menggali parit dan menyirami gurun. Ini akan menjadi kerja keras dan orang Afrika mungkin akan punah. “Kami harus belajar melihat hasil dengan tenang. Ini menggambarkan hukum alam yang baik, bahwa yang lemah harus dimangsa oleh yang kuat.”

Selain itu, Pada tahun 1866, Frederick Farrar memberi kuliah tentang “Aptitude of Races” yang dibaginya menjadi 3 kelompok.

• Savage (Semua orang Afrika, penduduk asli, orang kulit berwarna kecuali orang Cina)

• Semi-Beradab (misalnya Cina – yang dulunya beradab tetapi sekarang masyarakatnya berada dalam perkembangan yang terhambat)

• Beradab (bangsa Eropa, Arya dan Semit)

Alhasil dari sono mereka yang mengaku pintar dan menguasai ilmu pengetahuan memang sudah banyak yang terjebak dalam rasisme. Maka woles saja ya bro? Ketawain saja....

Kita maklumii saja...!

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image