Batavia Kota Gundik, Nyai, dan Budak

Sejarah  

Para nyai dan anak Indonya.
Para nyai dan anak Indonya.

Nyai dan Pergundikan di Batavia (Bagian 1) | Republika Online" data-deferred="1" data-atf="true" data-iml="811" />

Ketika Daendels Terkejut Ketika Menemukan Fakta Batavia Dipenuhi Anak Hasil Pergundikan

Melihat situasi itu, Daendels pada saat itu juga langsung mengambil tindakan. Dia segera saja melipatgandakan kedatangan orang Eropa ke Batavia. Namun sayang, usaha ini gagal total karena buruknya dan lamanya waktu pelayaran dari Eropa ke Batavia sehingga banyak gadis Eropa yang meninggal di perjalanan. Apalagi kemudian terbukti ternyata perempuan kulit putih yang dikirim ke Hindia Belanda sebagian besar perempuan bermoral rendah atau terbiasa hidup dengan menjajakan layanan seksual.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dan, yang paling membuat Daendels terkejut adalah ketika dia membuka perekrutan tenaga tentara. Ternyata, mereka yang mau mendaftar adalah kebanyakan “orang Indo” atau anak-anak dari perempuan yang dipiara “tuan putih kolonial”. Tak cukup dengan itu, Daendels pun semakin merasa heran akan banyaknya anak yang lahir dari hubungan campur yang kebanyakan mereka kemudian ditelantarkan sang ayah Eropanya.

Demi mencegah meluasnya bencana, terutama untuk menyelamatkan kepentingan kolonialnya dan untuk memperoleh pasokan anggota tentaranya, Daendels kemudian melakukan pengesahan anak-anak Eurasia secara hukum. Anak-anak dari para nyai ini kemudian diakui secara resmi oleh ayah Eropanya. Ini dilakukan Daendels dengan harapan mereka nanti ketika sudah menjadi tentara akan setia kepadanya.

Usaha yang sama kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Hindia Belanda berikutnya yang berasal dari Inggris, Raffles, yang datang ke Batavia pada 1811. Raffles pun melihat “kejanggalan” itu. Ia juga mendapati meluasnya praktik pergundikan hingga ke kalangan elitenya. Bagi Raffles dan para orang Inggris lainnya yang saat itu kebanyakan masih punya landasaran moral sangat konservatif dalam urusan seks, menjalani hubungaan seksual dengan perempuan Asia, lebih parah lagi sampai menikahi mereka, adalah merupakan aib yang sangat besar.

Tak cukup hanya dengan prihatin, Raffles mulai menerapkan pelarangan atas praktik aib ini. Bukan hanya itu, bersama istrinya, Olivia, Raflles selaku gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu pun berusaha memberi contoh secara langsung. Ia berpendapat bahwa istri, terutama istri laki-laki yang punya jabatan tinggi, harus melakukan tugas tertentu di masyarakat. Olivia mendapat tugas penting resmi untuk menjalin kontak dengan pejabat tinggi pribumi dan Eropa di Hindia Belanda.

Akiba kebijakan ini, para pejabat dan penduduk Belanda yang lama di koloninya pun terpaksa mengikutinya. Mereka juga semakin sering tampil keluar bersama istri yang juga semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, kebijakan Raffles ini sempat menajdi tren dan terus berlangsung hingga beberapa dasawarsa ke depan.

Namun, seperti yang ditulis Reggie Bay, sikap gubenrus jendral asal Inggris yang tak membenarkan pergundikan di Hindia Belanda in, ternyatai tidak serta-merta menjamin lenyapnya pergundikan di bawah pemerintahan kolonial mereka. Bahkan warga Inggris pun terkadang hidup secara terang-terangan hidup serumah dengan para gundik Asianya.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image