Administrasi Kampung Betawi: Dari Che Dzeng, Mak Poco, Seren. Hingga Rambate Rata Hayo

Sejarah  
(Lukisan Lithografi 1610. Dua jaga labuhan dengan senapan api lagi cengkerama dengan penduduk)
(Lukisan Lithografi 1610. Dua jaga labuhan dengan senapan api lagi cengkerama dengan penduduk)

Kampung-kampung budaya Betawi yang dalam peta Pangeran Panembong berlokasi di antara kawasan dua sungai, yakni Cisadane-Citarum.

Kampung-kampung itu memiliki:

1. Gerbang yang dalam Betawi disebut Betawi, Kendal, dan Kaca-kaca.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Betawi: nama suku

Kendal: nama sungei di Tanjung Priuk.

Kaca-kaca: nama gang di Pasar Baru.

2. Parung: pos jaga

3. Jondol: fasilitas umum berupa bangunan sederhana dengan bale-bale untuk santai.

4. Ulu Jami: tonggak penanda permulaan kampung.

5. Wates: penanda batas antar kampung.

6. Langgar, atau mushala. Tapi tak di semua kampung.

7. Sumur bor, sumur untuk umum, tidak di semua kampung.

Nomenclatur pimpinan kampung:

Mula-mula Le Deng, atau Che Deng. Ada juga yang menyebut Le Gok dan Le Dug. Isteri pimpinan kampung disebut Mak Poco. Biasanya Mak Poco tukang mencarikan jodoh.

Di masa terkemudian pimpinan kampung disebut Serean.

Sampai dengan masa VOC unit-unit organisasi kampung tidak ada filial kecuali era Majakatera, mereka di bawah Patih. Patih tandem (mitra kerja) Syahbandar.

Kalau di Jakarta kuasa adat dijabat Patih.

Patih selaku kuasa adat berhak membuat rayonisasi pemukiman, termasuk terhadap migran.

Tidak ada yang boleh memiliki tanah, melainkan hak pakai saja.

Bekerja bersama untuk kepentingan kampung istilahnya bukan gotong royong tapi Rambate Rata, Hayu. Ini pengaruh bahasa Melani yang artinya Semua Sama, Mari.

Penulis: Ridwan Saidi, Budayawan Betawi dan Sejarawan.i

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image