Bagai Tikus Mati DI Lumbung: Ironi Di Balik Kemerdekaan, Swasembada Beras, dan Janji Politisi

Budaya  
Petani memandangi cangkul, lahan sawahnya, serta merenungi nasibnya.
Petani memandangi cangkul, lahan sawahnya, serta merenungi nasibnya.

Hari-hari terakhir ini bergaung kencang tentang kabar penghargaan Indonesia dengan status sebagai negara swasembada beras. Kabarnya melambung-lambung ke langit. Haru biru. Penuh pecitraan seolah kembali mengulang kembali kejayaan Indonesia pada awal 1980-an ketika Presiden Soeharto mendapat penghargaan yang sama melalui lembaga FAO dalam sebuah perhelatan di Italia.

Tapi bila para pembaca petani yang sehari-hari mengolah tanaman padi di sawah, haru biru tersebut malah membuat kecut. Mereka akan bertanya apa arti swasembada beras bagi dirinya? Ketersediaan beras melimpah tak menghasilkan apa-apa, kecuali rasa tenang semu bahwa keluarganya punya stok pangan yang cukup.

Lazimnya para petani padi yang sebagian besar berstatus buruh tani atau yang terkenal dengan sebutan ‘petani gurem’, tak bisa mengandalkan hidup dari lahan pertanian. Hasil dari lahan sawahnya yang sempit, rata-rata maksimal mereka hanya menggarap lahan yang kurang dari seperlima hektar itu, tak berati.’’ Selisih biaya mengolah sawah dengan pendapatan dari hasil panenan kalau dijual sangat tipis. Bahkan tak ada artinya, alias kerap tekor!.”

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bayangkan ini. Bila ada anak muda yang hari ini masih mau jadi petani padi ini mereka pasti sekedar melakukan sebuah lakon ‘stand up’ komedi. Sebutan petani milenial itu hanya lagu ‘nina bobo’ sebelum tidur. Setelah bangun mereka akan mendapatkan kenyataan yang tak seindah dan semerdu lagu buaian itu.

Bahkan, kerapkali kenyataan yang terjadi saat petani sudah terjaga dari tidurnya, layaknya malah menjadi sebuah mimpi buruk yang konkrit. Harga beras turun drastis kala panen. Hati petani padi semakin kecut dan hanya bisa pasrah karena juga panenan padi tak selalu melimpah – sebab tahun ini hama wereng meluas. Mereka makin pucat pasi karena ada keputusan ‘para dewa’ akan impor beras padahal harga beras sudah sangat murah. Beras petani hanya rusak menumpuk di lumbung.

Maka kini lengkaplah penderitaan petani yang mengalami kekalahan hidup dari berbagai segi, yakni lemah secara ekonomi, politik, hukum, sosial, dan sangat tergantung pada alam (musim). Ironi lainnya, meski tahu tak akan dapat keuntungan apa-apa, kelak jelang perhelatan politik akan ramai bergerilya di kampung-kampung para politisi yang dengan gagah perkasa dari dahulu berpidato dengan janji mensejahterakan petani.

Kesejahteraan petani,’’janji manis politisi semenjak Indonesia merdeka yang sekedar janji!”

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image