Gara-Gara Vivere Pericoloso Orde Lama 'Ngegeloso'

Sejarah  
Foto Tabloid Anti Komunis yang terbit pada 1957.
Foto Tabloid Anti Komunis yang terbit pada 1957.

Pemilu 1955 PKI menjadi pemenang ke empat. Media PKI Harian Rakyat diikuti koran non partai Sin Po lalu yang kemudian ganti nama Warta Bhakti, dan Bintang Timur, semua di Jakarta, menjadi makin agresif menyerang lawan-lawan politiknya terutama Masyumi.

Bintang Timur, mungkin kebetulan, dalam bahasa Belanda artinya de Ster van het Oosten. Ini juga menjadi nama synagog jaman Belanda buat ritual kaum Jewish (Yahudi). Jaman merdeka gedung ini dikuasai pemerintah, kemudian jadi Bappenas.

Media Masyumi kebanyakan majalah seperti Hikmah, Daulah Islamiyah yang terbit bulanan. Sedangkan media koran cuma Abadi pimpinan S. Tasrif yang beretika.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Akhirnya tokoh pemuda Islam Firdaus Ahmad Naquib dan teman-temannya mendirikan Front Anti Komunis. DN Aidit kelojotan serya berkaya: "Kami tidak bermaksud membalas dengan bikin Front Anti Masyumi."

Pernyataan itu kemudian direspons Firdaus, Front Anti Komunis bukan anti PKI saja.

Firdaus bikin tabloid mingguan Anti Komunis. Kubu media komunis dan simpatisannya dapat imbangan tangguh.

Setelah pemerintah Indonesia mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia, lalu Bung Karno dalam pidato Agustusan 1964 umumkan tahun 'Vivere Pericoloso', menyerempet bahaya. Istilah ini disingkat 'Tavip'. Akibatnya, sebutan 'Tavip' jadi nama gang di-mana-mana. Ini misalnya kala itu di kawasan Grogol ada nama Gang Tavip. Di sana kepala RT ada yang dipanggil warga pak Tapip.

Kedutaan Inggris sering didemo Pemuda Rakyat. Pihak kedutaan merespons dengan parede grup yang memainkan music Scottlandia.

Mulai saat itu puka Presiden Sukarno melalui Menlu Subandrio mendirikan poros Jakarta-Peking. Peking itu Beijing. Kemudian datang rombongan dukun-dukun (sinshe) China. Katanya mau mengobati Bung Karno.

Koran-koran kiri siarkan berita dan ulasan-ulasan yang selalu hebat-hebatkan China, yang dulu disebut Tiongkok. PKI pajang potret Marx, Lenin, dan Mao Tse Tung di jalan-jalan. Koran kiri sebut sosok Mao Tse Tung dengan panggilan Paman Mao. Adanya kenyataan ini di masa lalu itu, kalau amati politik kok sering ingat jaman Paman Mao bekend (terkenal) di mari.

Itulah situasi Vivere Pericoloso. Hidup susah, mau cari hiburan susah, bioskop putar film China semua. Bahkan, sewaktu-waku malah hanya dapat nonton film dari Korea Utara.

Kesumpekan kala itu buat kadang saya mengeluh sembari bertanya: Kapan ya ini jaman berakhir?

Nah, tahu-tahu percobaan kudeta Gestapu/PKI meledug. BK, PKI, Orde Lama ngegeloso. Terjerembab.

Penulis: Ridwan Saidi, Sejarawan dan Budawan Betawi.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image