Penyebaran Islam dan Kronologi beragama di Betawi X SM - XIX M

Agama  
Jalan Mualim Teko di Kelurahan Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. (Istimewa)
Jalan Mualim Teko di Kelurahan Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. (Istimewa)

Peta Tanah Betawi versi Pangeran Panembong XVI M adalah di antara batas barat Kali Sedane dan batas timur Kali Citarum, selatan Cibinong.

Kronologi

1. Sejak abad X SM masyarakat Betawi sudah mempercayai adanya Tuhan melalui kontak dengan migran Maya yang meyakini Ahu Aviki, aku tahu Tuhan , tapi tak tahu lebih dari itu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

2. Betawi belajar tauhid Musa II M melalui kunjungan Queen of Sheba Axumite danrombongan. Agama mereka dikenal sebagai agama Saba

3. Betawi mendalami Sabean (agama Saba) sejak V M melalui Tuanku Raman dari Tana Melayu, makam Batujaya, Karawang. Dan Syekh Yusha dari Falastini, makam Kampung Bencongan, Karawaci, Tangerang.

4. Betawi belajar tauhid Islam sejak VII M dari orang Amrat Oman dan famili Hamadi dari Iraq. Salah seorang murid yang terkenal kemudiannya Bin/Ben Tong, putera Pak Entong, alias Darugem (pindah agama dari Saba ke Islam). Rumahnya di Kp Iri'an desa Bambu Jenar, Teluk Pucung, Bekasi. Karena itu ia dikenal dengan nama Syekh Siti (tanah) Jenar. Makamnya di Pulo Mesigit, Lemah Abang, Karawang.

5. Betawi belajar Islam kaffah sejak X M dari Mualim Teko alias Layt Abu Nashr bin Ibrahim al Samarkandi.

Ia menulis dua kitab:

Baca'an, doa- doa, dan Masa'il tentang tuntunan sembayang, munakahat, dan penyelenggaraan jenazah. Kedua kitab ada di British Library. Beliau wafat 983 M. Makamnya di Kapuk Teko.

6. Para pelanjut penyebaran Islam dalam time frame XI-XV M tercatat Dato Ibrahim, Condet, Dato Biru, Rawa Bangke, Dato Mera dan Dato Tonggara, Kramat Jati, Dato Banjir, Lubang Buaya. Makam almarhum pada tempat2 yang tersebut.

Selain itu sejak XI M juga orang2 Moor (Afro muslim) dan Koja (Indian muslim) bergiat dalam penyebaran Islam

7. Ulama Betawi abad XVI M tercatat Mundari. Beliau Kuasa Adat Majakatera.

8. Ulama Betawi abad XVII M:

8.1. Ki Alang, tahun 1610 menulis kitab Tumenggung al Wazir. Ki Alang ahli mantiq.

8.2. Ki Aria, Kuasa Adat Majakatera.

8.3. Asmat bin Asba, pada tahun 1680-an memberi masukan pada Belanda tentang sistem peradilan Islam.

Pada periode sama muncul :

8.4. Tumenggung Imam Kuningan. Ia tajir dan pendakwah. Ia Betawi asli. Makamnya di Kuningan.

9. Seperti halnya gelar Tumenggung, gelar Pangeran juga di Betawi bukan gelar menak tapi gelar untuk orang kaya. Pada abad XVIII terkenal Pangeran Papak. Makamnya di Jalan Perintis Kemerdekaan. Pangeran Papak berjuang dengan hartanya. Ia banyak membangun langgar/mushala di Jakarta.

10. Syaikhul Masyaikh Junaid al Batawi dari Pekojan. Snouck Hurgronye dalam laporannya 1894-1895 memberi kesaksian bahwa Syekh Junaid satu2nya orang Indonesia yang menjadi Imam Masjidil Haraam dan mendapat tempat di serambi mesjid untuk mengajar.

Tempat ibadah yang dibangun pertama kali dalam time frame X-XIII M langgar atau mushala. Langgar artinya penerangan. Langgar tertua yang masih ada di Jl Pengukiran II, Kota.

Mesjid pertama dibangun XIII M di Majakatera di selatan menara Syahbandar.

Mesjid kedua diresmikan tahun 1540 di Kota Inten.

Kenalilah sejarah agar anda lebih kenal diri anda sendiri.

Penulis: Ridwan Saidi, Sejarawan dan Budayawan Betawi.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image