Kisah Musik Dangdut dan Sosok Rhoma Irama yang Tak Terbayangkan

Musik  
Rhoma Irama berkao Putuh berjalan bersama Ridwan Saidi di atas rel kereta api pada sebuah kampanye PPP di tahun 1977 di Serang Banten. (Foto koleksi: Ridwan Saidi)
Rhoma Irama berkao Putuh berjalan bersama Ridwan Saidi di atas rel kereta api pada sebuah kampanye PPP di tahun 1977 di Serang Banten. (Foto koleksi: Ridwan Saidi)

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Ketika membaca berita bila hari ini Rhoma Irama berulang tahun pikiran ini langsung berputar pada dua hal. Pertama, pada sosok rekan jurnalis Suara Karya, mendiang Kartoyo yang sehari-hari menjejali tentang kisah kiprah Soneta dan 'Haji Oma' dalam perbicangan di press room DPR Senayan. Kedua, pada omongan Kartoyo yang juga sempat menulis biografi si-raja dangdut ini. Selama meliput di DPR, dia bercerita begitu banyak hal dari remeh temeh berupa guyonan hingga hal-hal serius mengenai 'bang haji' dan Sonetanya.

Melalui cerita Kartoyo diketahui betapa berat 'sekaligus' nekad ketika anak tentara kelahiran Tasikmalaya yang dibesarkan di Kawasan Bukit Duri Jakarta itu berusaha menaikkan gengsi musik Melayu. Kelas musik Melayu yang kala itu dianggap pejoratif dengan sebutan musik kelas lampu petromak, musik kampung becek, musik 'mikropon sombok' masjid, hingga musik orang miskin, musik orang tak 'makan bangku sekolah', musik kaum susah di mana ketika sedih pun harus bergoyang dan berbagai hal lainnya, menjadi terpinggirkan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kartoyo bicara panjang lebar soal-soal itu. Dia cerita mengenai artis 'anu' yang dari dahulu (awal pediode 1970-an) tak suka Oma Irama pergi ke Singapura untuk mewakili Indonesia dalam sebuah festival musik. Si artis itu lebih menginginkan Broery Pesolima yang pergi. Tapi untunglah Oma Irama yang juga mengidolakan Broery kemudian pulang dengan menggondol juara pertama.

''Nah, dari kisah ini kalian tahu faktor lain di balik munculnya kasus heboh goyang ngebor Inul Daratista dahulu kan?,'' tukas Kartoyo kala itu. Dia juga tak lupa bercerita mengenai latar belakang munculnya lagu Oma Irama 'Musik' yang berisi gugatan atas adanya pengkastaan musik. Tak lupa Kartoyo menyebut sosok penyanyi yang mana yang kala itu getol ingin menghapusan musik.''Atas perakatan si-penyanyi top itu, maka keluarlah lirik dalam lagu berjudul 'Musik' itu: Kalau yang tak suka minggir.

Kartoyo memang begitu dekat dengan 'bang haji'. Kartoyo pun sangat bangga dengan dia serta tulisan biografi bertajul 'Raja Dangdut' itu.''Yang saya terkesan ketika menulis buku itu adalah ketika wawancara Iwan Fals. Iwan mengatakan lagu 'Begadang' itu sama terkenalnya di Indonesia dengan Indonesia Raya. Semua orang tahu dan bisa menyanyikan,'' ujarnya lagi.

Sama dengan Kartoyo, politisi senior dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, belakangan sempat menceritakan asal usul munculnya frase 'yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Kata Ridwan: kata itu muncul dari omongan pidato seorang dia dalam kampanye PPP tahun 1982. Oma waktu sempat izin memakai kalimat itu untuk lagunya.

"Habis kampanya yang dihadiri sampai 500 ribu orang itu, dia telepon saya minta pakai izin pakai yel-yel itu. Saya jawab 'tafadhal' Ji. Beberapa waktu kemudian lagu dengan yel-yel itu ke luar. Masyarakat antusias tapi rezim Orde Baru gerah. Oma makin dicekal kiri-kanan,'' kata Ridwan Saidi.

Buku Rhoma Irama dan Dangdut karya Professor of Music, University of Pittsburgh Amerika Serikat, Andrew W Wintraub
Buku Rhoma Irama dan Dangdut karya Professor of Music, University of Pittsburgh Amerika Serikat, Andrew W Wintraub

******

Dan memang lagu 'Begadang' yang dirilis sekitar tahun 1974 itu mencetak hits besar dan menjadi penanda awal munculnya 'Revolusi Dangdut'. Kala itu catatan koran menulis album itu dalam 15 menit rata-rata terjual satu kaset. Berkat itu Oma Irama bersama Soneta kemudian naik haji hingga mampu mengawali membeli alat musik dan perangkat panggung yang lebih moderen. Oma malah menjadi satu-satunya artis yang saat itu bisa naik sedan Mercy.

Pendek kata performa dangdut berubah menjadi 'musik gedongan'. Vokal Oma Irama yang disebut Professor of Music, University of Pittsburgh Amerika Serikat, Andrew W Wintraub, mempunyai vokal yang 'tidak merdu tapi unik' karena bisa menjadi ekpresi suara batin mengenai duka lara kaum tertindas', juga terkesan dengan keberhasilan itu.

"Kalau didengarkan seksama teknik bernyanyi bagi telinga orang Amerika, vokal bang Haji bila itu mirip King of Rock and Roll: Elvis Preslye. Lihat itu beberapa cengkoknya. Unik dia,'' kata Andrew dalam suatu perbincangan beberapa tahun silam. Lewat penelitian dia selama bertahun-tahun di Indonesia maka kemudian muncul buku keren: Dangdut Sories, A Sosical Musical And History of Indonesia's Most Popular Music.

Sisa perubahan besar dangdut dari musik kampungan ke gedongan yang dilakukan Oma Irama itu bisa terlihat dari tayangan televisi di mana Oma Irama menyanyi dengan lirik berbahasa Inggris tentang pandemi Corona. Dengan sosok dia dan kemampuan musiknya, dangdut yang sebelum tahun 70-an disebut musik kampungan kini benar-benar melibas batas. Rhoma ternyata tetap menjadi raja tak tergantikan. Dengan menyanyi dengan lirik Inggris, dia seperti menantang generasi muda yang berkecimpung di dangdut melakukan hal sama: berani bernyanyi dengan lirik Inggris yang utuh. Bukan sekedar dicuplik untuk gaya-gayaan ala omongan 'tuan kebon' yang ngomong gado-gado bahasa di zaman Kompeni. Oma dengan fasih menyanyikan lagu berbahasa Inggris itu:Cause you know just what to say

And you know just what to do

And I want to tell you so much I love you....

Dengan Oma menyanyikan lagu itu (dan lagu Corona bersyair Inggris) di televisi ini makin mengukuhkan adanya proses sosial yang sangat panjang bagi musik dangdut. Dia terus melakukan periubahan secara terus menerus dengan gayanya sendiri. Bayang-bayang pertarungan imaji antara penggemar musik rock dan dangdut telah sirna. Jejaknya tinggal sekedar kisah.Jejak ‘perasingan’ musik dangdut dan rock yang kini sempat diakui oleh mantan anggota grup musik ‘Giant Step’ yang kini jadi birokrat. Dia mengaku persaingan panas itu sebenarnya hanya sekedar ‘gimmick’, misalnya ada dalam arsip jurnalis senior majalah ‘Aktuil’, Buyunk Aktuil. Dalam laman facebooknya, dia sempat mengunggah arsip soal diskusi yang salah satu di antaranya perlahan meluluhkan persaingan panas antara penggemar rock dan dangdut kala itu.

Rhoma Irama sebagai juru kampanye PPP 1982. (istimewa)
Rhoma Irama sebagai juru kampanye PPP 1982. (istimewa)

Berita soal diskusi tersebut begini selengkapnya:“Ini diskusi sal Rock VS dandgut edisi kedua di tahun 1976...ROCK VS DHANGDUT BAGIAN KE II."MASIH GOMBAL". Diskusi musik Rock vs Dhangdut yanng dihadiri Dr Soedjoko,Wandi ODALF, Denny Sabri,Remy Sylado,Benny Soebardja,Leo Kristi dll, semula berjalan lamban mulai menggeliat setelah Remy buka suara.

"Sebetulnya gua datang ke diskusi ini sebagai penonton saja, mau tahu apa sih yang sebenarnya terjadi sehingga Benny berani-beraninya meremehkan musik dhangdut.". Benny berkelit dengan menceritakan mengapa ia memilih musik rocl sebagai warna musik Giant Step."Karena saya suka musik keras!".Gitaris Giant Step itu menyebut-nyebut ambisinya untuk membawa musik garapannya keluar negeri."Oleh karena itu hampir semua lagu-lagu Giant Step saya buat dalam bahasa Inggeris,supaya mudah diserap oleh penikmat lagu-lagu barat". Remy menimpali dirinya kurang setuju memasarkan musik karya anak bangsa keluar negeri dengan bahasa Inggeris pada lyrikl-lyrknya: "Pakai bahasa Indonesia saja masih gombal!.Apa lagi pakai bahasa Inggeris. ini sok-sok'an saja".

Denny Sabri menengahi dengan menjelaskan bahwa banyak penyanyi dan grup di Jepang yang membuat lagu-lagunya dalam bahasanya sendiri dan mereka berhasil masuk dalam daftar tangga lagu-lagu di Eropa walaupun lagu-lagunya nya berbahasa Jepang."Menurut saya tidak perlu harus memakai bahasa Inggeris,kalau musiknya bagus enak didengar pasti bisa diterima".kata Denny. Pandangan Denny ditanggapi Leo Kristi. Dia berkata: "Sebaiknya gunakan bahasa Indonesia,kalau sudah yakin bisa diterima barulah lyriknya di rubah ke bahasa Inggeris.Dan yang paling utama adalah 'nation pride',kita harus bangga dengan bahasa Indonesia. Kenapa harus berambisi mencari popularitas di luar negeri, ementara di negeri sendiri belum banyak yang tahu model apa sih lagu-lagunya". Benny langsung terdiam.

Remy pun kembali bertanya "Ini diskusi lagu rock Indonesia berbahasa Inggris atau Rock vs Dhangdut? Sebelum ngawur gak karuan,lebih baik panelis kembali kepermasalahannya". Hadirin riuh menyambutnya.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image