Kisah Pak AR Fahcruddin Pergi ke Lokalisasi Sarkem

Agama  
Simpang ruas jalan menuju Malinoro dan Pasar Kembang (Sarkem). (foto Google).
Simpang ruas jalan menuju Malinoro dan Pasar Kembang (Sarkem). (foto Google).

Selang sehari jelang Muktamar Muhammadiyah di Solo, buku tipis karya jurnalis senior Republika Syaefuddin Simon yang berkisah tentang tokoh legendaris Muhammadiyah, AR Fahrudin (KH Abdur Rozak Fachruddin) seakan melamba-lambai untuk dibuka dan dibaca lagi. Buku itu tertajuk: Pak AR Sang Penyejuk. Buku ini terbit beberapa tahun silam.

Setelah dicoba dibaca lagi, dalam buku Simon yang memang selama tahunan indekost di rumah Pak AR yang kini sudah berubah menjadi Kantor PP Muhammadiyah di Jogjakarta itu berada di dekat bundaran UGM itu, ada satu kisah yang menarik sekaligus mengagetkan. Salah satu bagian bukuitu adalah soal Pak AR pergi ke lokalsiasi kondang di Jogjalkarta, Pasar Kembang (Sarkem). Simon menulis kisah itu dengan kocak. Begini ceritanya:

Alkisah, seorang mahasiswa pernah memergoki Pak AR naik becak turun di Pasar Kembang (Sarkem) Jogja. Ia kaget bukan kepalang. Untuk apa Pak AR pergi ke Sarkem? batinnya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

''Pimpinan Muhammadiyah kok pergi ke Sarkem. Sendirian lagi. Mau apa?" Sungut sang mahasiswa.

Sarkem adalah tempat lokalisasi prostitusi yang terkenal di Yogyakarta. Letaknya hanya 200 meteran dari Malioboro dan masjid Syuhada. Dekat Kali Code, tempay di mana Pak AR punya banyak jamaah pengajian.

Kebelutan kamarku waktu tinggal di Asrama Yasma Putra, Masjid Syuhada, hanya ratusan meter dari Sarkem. Tiap malam mendengar alunan musik dangdut dari sana. Salah satu lagu dangdut yang mereka putar di warung remang-remang Sarkem saat itu adalah 'Siksa Kubur' yang dinyanyikan Ida Laela. Perempuan-perempuan bernasib malang itu kelihatan asyik berjoget dengan iringan lagu 'Siksa Kubur' sambil bersiut-siut, caper jika ada orang lewat. Mereka tak peduli bagaimana makna lagu itu yang menceritakan siksa kubur terhadap orang-orang berdosa. Yang penting musiknya mengasyikan.

Jadi, pelacur di Sarlem mengdisharmonikan makna lirik dan musik tadi.Nah, bagaimana soal 'mengharmoniskan' lirik dan musik sehingga mengarah ke 'langit' -- itu adalah salah satu kemampuan Pak AR yang jarang dimiliki orang.

Lanjut kisah mahasiswa yang menguntit Pak AR tadi. Ternyata ia penasaran melihat Pak AR masuk ke kompleks pelacuran. Ia pun mengikuti Pak AR dari jauh agar tidak terlihat orang dan kerumunan wanita-wanita Sarkem. Ia 'nginjen' Pak AR untuk mengetahui apa yang dilakukan beliau di Sarkem.

Kecurigaan sang mahasiswa makin besar ketika melihat wanita-wanita menor itu menyambut Pak AR dengan antusias. Lebih curiga lagi ketika mereka mengajak Pak AR masuk ke dalam rumahnya.

What worng? Mauapa Pak AR masuk ke dalam rumah pelacur?

"Najis! Gak bisa ditolelir," pikir mahasiswa itu.

Penasaran, mahasiswa yang 'nginjen' Pak AR tadi berjingkat-jingkat mendekati rumah pelacur. Ia ingin memastikan apa yang dilakukan Pak AR di Sarkem tersebut.

Ouh! Sang mahasiswa itu akhirnya kaget sendiri. Mulutnya tersekat. Ia urung marah. Kenapa? Ternyata Pak AR ngasih pengajian.

"Kok mau-maunya Pak AR ngasih pengajian di lokalisasi prostitusi?" Sia-sia Pak. Bapak hanya dapat lelahnya saja, hasilnya tak ada!"

"Nah, jangan begitu. Mereka juga manusia.Pasti punya instink kebenaran. Saya ingin membuka hati mereka agar mampu melihat secercah kebenaran. Urusan nanti bertobat atau tidak, itu hak prerohatif Allah," kata Pak AR. Sang mahasiswa pun nnyengir dan manggut-manggut. Terharu!

Sumber tulisan: Buku 'Pak AR Sang Penyeduk', karya Syaefuddin Simon, Penerbit Global Express Media, 2018.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image