Bercermin Pada Derita Rakyat Pakistan yang Kini Diminta Kurangi Konsumsi Minum Teh dan Listrik

Budaya  
Mencampur susu dengan teh (membuat teh tarik) di Pakistan.
Mencampur susu dengan teh (membuat teh tarik) di Pakistan.

Dalam krisis apa pun yang paling menderita memang orang kecil. Dalam perang misalnya yang mati duluan adalah prajurit rendahan. Dia yang maju menyongsong peluru di barisan depan.

Begitu juga dalam situasi krisis ekonomi pada masa kini. Rakyat kecil yang tak tahu-menahu soal imbas serangan Rusia ke Ukraina tak paham bila salah satu sumber kriss ekonomi dari sana. Orang kecil hanya tahu gandum, bahan bakar, hingga minyak goreng harganya melambung. Paling mereka hanya bisa mengeluh tapi tak tahu apa sejatinya yang terjadi.

Pada situasi krisis ekonomi saat ini ada yang unik terjad di Pakistan. Di sana, orang-orang telah diminta untuk mengurangi jumlah teh yang mereka minum untuk menjaga perekonomian negara tetap bertahan. Kenyataan inii siperti dilaporkan berbagai media. Seruanna: Menyeruput lebih sedikit cangkir sehari akan memotong tagihan impor Pakistan yang tinggi. Pernyataan ini dikatakan Menteri Federal Perencanaan Ahsan Iqbal.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Katanya, cadangan mata uang asing negara yang rendah -- saat ini cukup untuk kurang dari dua bulan dari semua impor. Ini telah telah membuatnya sangat membutuhkan dana. Sebab, Pakistan adalah importir teh terbesar di dunia. Negara ini membeli komoditi teh senilau lebih dari 600 juta dolar AS tahun lalu.

"Saya mengimbau kepada bangsa untuk mengurangi konsumsi teh satu hingga dua cangkir karena kami mengimpor teh dengan pinjaman," kata Iqbal, menurut media Pakistan.

"Para pedagang juga bisa menutup kios pasarnya pada pukul 20.30 untuk menghemat listrik," sarannya lagi.

Permohonan itu datang saat cadangan mata uang asing Pakistan terus turun dengan cepat -- memberikan tekanan pada pemerintah untuk memotong biaya impor yang tinggi dan menyimpan dana di negara itu.

Permintaan untuk mengurangi minum teh ini pun telah menjadi viral di media sosial, dengan banyak yang meragukan masalah keuangan negara yang serius dapat diatasi dengan menghentikan minuman tersebut. Cadangan devisa Pakistan turun dari sekitar 16 miliar dolar AS pada Februari menjadi kurang dari 10 miliar dolar pada minggu pertama Juni. Dana ini hampir tidak cukup untuk menutupi biaya dua bulan dari semua impornya.

Pada bulan lalu, pejabat di Karachi pun juga telah membatasi impor lusinan barang mewah yang tidak penting sebagai bagian dari upaya mereka untuk melindungi dana

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image