Sisi Sipritualitas Sunan Kalijaga dan Suharto: Islamnya Orang Jawa di Era Moderen

Agama  

Persentuhan Soeharto dengan Islam semakin intens ketika dia naik ke tampuk kekuasaan. Peristiwa G-30-S/PKI harus diakui sebagai pemicu terbesarnya. Di situlah dia secara nyata bersinggungan dengan isu Islam, baik soal agama maupun Islam sebagai aliran politik.

Memang, pada periode ini ada persinggungan yang aneh antara sosok Soeharto dengan isu-isu Islam. Di sisi lain, Soeharto yang saat itu dilingkari jenderal-jenderal dari kalangan priayi-abangan (hanya sedikit yang santri) menampilkan kebijakan anti-Islam, maksudnya Islam sebagai gerakan politik.

Pada masa awal Orde Baru, dia menghalangi munculnya kebangkitan Partai Masyumi Baru yang salah satu inisiatornya Bung Hatta. Soeharto kemudian juga memecah kekuatan politik Islam NU dengan memaksa mereka melakukan fusi dengan kekuatan politik Islam lainnya melalui Partai Persatuan Pembangunan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Dia hanya memberi angin kepada kekuatan politik dari kalangan priayi-nasionalis yang tergabung dalam Golkar. Akibatnya, kekuatan Islam politik pun dibonsai habis-habisan, menyusul kekuatan partai komunis yang terlebih dahulu secara formal dia bubarkan. Bahkan, dalam hal ini dia kemudian membuat hantu baru bahwa ekstrem kanan (gerakan politik Islam) dan ekstrem kiri (gerakan komunis) adalah ancaman terbesar bagi eksistensi bangsa Indonesia.

Uniknya, di saat kekuatan Islam politik dia sapu bersih, Soeharto memberikan angin yang cukup besar bagi perkembangan umat Islam. Kelompok dan ormas Islam yang apolitis bisa mengembangkan dirinya dengan cepat.

Anak-anak santri yang berasal dari rakyat jelata, yang semenjak Indonesia merdeka hidup dalam kemiskinan, mulai menapaki jalan "kenaikan kelasnya" karena mampu bersekolah dengan murah. Masuk perguruan tinggi yang selama ini hanya dikecap golongan priayi dan abangan (karena menjadi birokrat yang kaya raya) mampu dikecapnya.

Biaya kuliah yang saat itu dibuat Soeharto dengan sangat murah atau terjangkau menjadi sarana pendorong utama anak-anak santri yang ada di perdesaan naik kelas sosialnya. Istilahnya, bagi rakyat perdesaan yang kala itu punya anak pintar: hanya menjatah hasil panen pada empat pohon kelapa, mereka bisa menguliahkan anaknya ke perguruan tinggi negeri.

Dalam hal ini, apa yang dikatakan mendiang Dr Nurcholish Madjid menjadi benar adanya. Bila dahulu sampai dekade 1960-an anak-anak santri hanya lulus SD, pada dekade 70 sudah rata-rata lulus SMA, lalu pada awal 80-an lulus perguruan tinggi, dan pada awal 90-an sudah banyak yang menjadi doktor.

Dan salah satu kelompok masyarakat yang bisa dikatakan paling menikmatinya adalah kalangan umat Islam yang berada dalam ormas Muhammadiyah yang saat itu dipimpin AR Fachruddin.

Selama kurun itu, dengan kebijakan yang rendah hati dan tawasuth dari AR Fachruddin, maka ormas Islam tersebut membesar dengan hebat. Fasilitas layanan umumnya berkembang luar biasa. Warga Muhammadiyah, karena lebih apolitis, bisa masuk secara leluasa menjadi birokrat dengan nyaman. Kehancuran ekonomi umat akibat bangkrutnya perdagangan batik milik para saudagar kemudian bisa teratasi secara perlahan.

Pak AR Fachrudin pun memberi contoh secara langsung. Dia memilih hidup sederhana dengan berjualan bensin eceran di depan rumahnya yang berada tak jauh dari Bundaran UGM. Dia tak tergiur dengan jabatan menteri agama meski Soeharto menawarinya secara langsung berulang kali. Situasi ini berbalik dengan NU yang terus berada "di pinggiran" karena saat itu sibuk dan terlalu berfokus pada gerakan politik.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image