Sisi Sipritualitas Sunan Kalijaga dan Suharto: Islamnya Orang Jawa di Era Moderen

Agama  

Pergi Haji, Menjadikan Indonesia ‘Hijau Royo-Royo’

Tak lama setelah peristiwa Priok, ada perkembangan yang menarik. Antara Soeharto dengan kepala Badan Intelijen Negara dan Menhankam Pangab LB Moerdani mulai timbul ketidakcocokan. Benny mulai melakukan manuver dan kerap mengkritik Soeharto, terutama atas kasus bisnis anak-anaknya.

Bahkan, manuver Benny makin menjadi-jadi ketika tersiar kabar bahwa dia ingin menjadi wakil presiden. Situasi semakin panas setelah pada awal 1960-an terdengar berita kelompok tentara LB Moerdani akan melakukan kudeta.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Tak ayal agi, Soeharto bertindak cepat. Tiba-tiba saja Benny Moerdani dipecat dari posisinya sebagai panglima ABRI. Kegaduhan pun muncul. Di arena sidang MPR, seorang anggota DPR dari Fraksi ABRI yang mendukung Benny memunculkan interupsi yang menolak pencalonan Sudharmono sebagai wakil presiden. Di luar, muncul pembunuhan karakter terhadap Sudharmono dengan tuduhan anggota PKI.

Namun, Soeharto jalan terus. Sebagai balasannya, dia kemudian mendekati kelompok Islam yang saat itu melakukan manuver politik dengan mendirikan ICMI dan diketuai BJ Habibie. Mulai dari sini, Soeharto yang sebelumnya tak peduli dengan Islam politik kini berbalik arah. Dia merangkul kelompok Islam.

Sedangkan, kelompok priayi-nasionalis atau LB Moerdani Cs yang semenjak tahun 1965 "menguasai negara" kini berbalik arah menjadi oposan. Saat itulah muncul--terutama di kalangan tentara dan birokrat--istilah ABRI merah dan hijau. Dan karena situasi negara berpihak kepada umat Islam, kemudian muncul sebutan "hijau royo-royo".

Sikap akomodatif terhadap Islam kemudian ditunjukkan dengan sikap Soeharto yang pada awal 90-an memutuskan naik haji bersama seluruh keluarganya. Orang jelas terperangah dengan adanya perubahan yang drastis. Bagi mereka yang nyinyir atau anti-Soeharto, kepergian Soeharto untuk naik haji itu hanyalah kamuflase demi menyelamatkan kekuasaannya.

Menanggapi soal ini, mendiang Nurcholish Madjid pada sebuah seminar sempat menyatakan, dalam hal tertentu Soeharto punya jasa terhadap umat Islam. Selama dia berkuasa, ribuan masjid--Masjid Muslim Pancasila--telah dia dirikan di seluruh pelosok Indonesia. Dia pun memberikan ruang kepada kaum santri melalui pemberian pendidikan yang murah kepada seluruh lapisan rakyat yang notabene sebagian besar di antaranya adalah umat Islam.

Menurut Cak Nur, bila kemudian Pak Harto semakin tua semakin Islami, hal itu memang sikap hidup dari sebagian besar orang Jawa. Mereka bila semakin tua maka akan semakin religius.

"Dan ini dicontohkan oleh sejarah hidup Sunan Kalijaga (Wali yang menjadi favorit orang Jawa--Red) yang di masa muda berandalan jadi perampok dan tukang begal, tapi di masa tua dia menjadi wali yang sangat dihormati," kata Nurcholish Madjid.

Akhirnya, dengan segala kontroversinya, Soeharto memang harus diakui adalah orang besar. Apalagi, salah satu syarat dari orang besar adalah adanya "kontroversi" itu.

Selamat jalan Pak Harto. Allahumagjfirlahu warhamhu...

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image