Sisi Sipritualitas Sunan Kalijaga dan Suharto: Islamnya Orang Jawa di Era Moderen

Agama  

Sepanjang masa awal Soeharto berkuasa hingga satu dekade akhir sebelum dia lengser, meski dibiarkan berkembang asal tak berpolitik, sebenarnya umat Islam dia represi. Soeharto dan para penasihatnya tak memberi kesempatan umat Islam untuk memberikan sikap politiknya. Dengan bantuan lembaga think-tank CSIS yang didirikan Ali Moertopo, yang berpusat di Tanah Abang, kekuatan politik Islam dilibas habis.

Bahkan, kekuatan ormas Islam jadi bahan olokan. Di kalangan elite Orde Baru pada 70-an dikenal sebutan peyoratif ketika menganalisis kekuatan politik Islam: tak terorganisir dengan baik, tak punya dana, dan emosional.

Situasi ini makin tak kondusif dengan munculnya berbagai gerakan yang ditengarai ingin mendirikan negara Islam, seperti Komando Jihad sebagai kelanjutan perjuangan DI/TII. Entah bagaimana, tiba-tiba muncul aneka tindakan kekerasan dari kerusuhan hingga pengeboman. Dan salah satu puncaknya adalah munculnya Tragedi Pembantaian Tanjung Priok.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bila ditelisik, munculnya kasus Priok tidak hanya disebabkan oleh hal yang tunggal, yakni perlakuan kasar anggota militer terhadap kelompok umat Islam yang pada saat itu di Jakarta Utara itu. Namun, penyebab lainnya adalah adanya situasi kebijakan negara yang terkesan sangat anti terhadap berbagai hal yang berbau atau memakai lambang Islam. Pelarangan jilbab dan kebijakan pendidikan yang pendidikan Islam adalah beberapa hal yang juga menjadi soalnya.

Belum lagi ceramah agama dan khutbah yang selalu dikontrol aparat intelijen negara. Penangkapan serta represi kepada para dai dan aktivis Petisi 50 yang kebanyakan merupakan tokoh Islam juga menjadi biang keladinya.

Namun, setelah peristiwa pecahnya kerusuhan Tanjung Priok, mulai terjadi perubahan dalam kebijakan Soeharto. Di beberapa kalangan kemudian beredar kisah peristiwa reuni para teman Soeharto ketika dahulu bersekolah di sebuah SMP Muhammadiyah di Yogyakarta.

Pada saat itu beberapa temannya menanyakan soal peristiwa Tanjung Priok. Dan kepada temannya yang jadi presiden itu, dia meminta agar Soeharto jangan kejam atau bertindak terlalu berlebihan terhadap umat Islam. "Apa salahnya kok sampai seperti itu perlakuan terhadap orang Islam?" kata sang teman.

Soeharto tercenung sesaat dan mengangguk-angguk, apalagi setelah sang teman mengatakan bahwa apa yang dilakukan akan sia-sia karena semua manusia akhirnya meninggal dunia serta dimintai pertanggungjawaban di depan mahkamah Illahi.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image