Anies Baswedan, Toponimi Jakarta Barat, dan Buku Kisah Nama Tempat Tanpa Konon Katanya

Sejarah  
Cengkareng tempo dulu.
Cengkareng tempo dulu.

Oleh: Teguh Setiawan, Jurnalis Senior

"Buku ini akan menjadi penting di masa depan karena menjelaskan secara singkat namun padat sejarah dan penamaan sebuah daerah di Jakarta Barat".

Begitulah komentar Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan soal terbitnya buku mengenai toponomi dan kisah nama tempat di Jakarta Barat. Terbitnya buku ini yang diprakarsai, H Ahmad Syaropi, kepala Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Barat, punya cerita menarik soal upayanya mencari tahu asal-usul nama Cengkareng dan kampung-kampung di sekelilingnya yang kini menjadi kelurahan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Maklum, Yopi -- demikian Ahmad Syaropi dipanggil rekan-rekannya -- asli orang Cengkareng. Ia lahir dan dibesarkan di Cengkareng, dari keluarga yang juga asli orang Cengkareng.

"Saya bertanya ke orang-orang tua, tidak ada yang tahu," Yopi memulai ceritanya. "Setelah semua serba digital, saya cari di Google. Ada banyak tulisan tentang Cengkareng, tapi bukan asal-usul namanya."

Akhirnya, Yopi berteori. Cengkareng, katanya, berasal dari kacang goreng, atau kacang dioseng-oseng. Namun, ia tidak punya sumber atau data sejarah yang mengkonfirmasi teori itu. Dari situlah muncul keinginan Yopi menerbitkan buku yang berkisah tentang kampung-kampung di Jakarta Barat.

Pekan lalu sebuah buku tentang asal-usul nama-nama tempat di Jakarta Barat, judulnya Toponimi Jakarta Barat, muncul. Buku ditulis dua wartawan; Teguh Setiawan dan Amin Suciady, dan diterbitkan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image